Tahun 2010. Adakah yang istimewa? Tentu saja. Menjelang akhir tahun 2009, keistimewaan tahun 2010 sudah mulai terasa. Apalagi kalau bukan "musim dingin". Dari beberapa informasi yang saya dengar, tentunya dari orang-orang Belanda sendiri, musim dingin seperti ini terakhir kali terjadi pada tahun 1979-80-an. Tipikalnya sama: turun banyak salju (kurang lebih 15 cm) dan dinginnya ekstrim (-15 derajat). Dibanding dengan musim dingin 2008/2009, musim dingin kali ini lebih hebat, paling tidak untuk ukuran kami yang nota bene adalah "vreemdeling[en]" (orang asing). Bagi saya dan Gio (anak kami), tidak begitu menjadi soal, namun lain halnya bagi istri saya (Rosita). Ia tidak cukup kuat menantang "dingin". Namun, saya juga salut padanya karena ia akan berupaya keluar dari rumah agar terbiasa dengan musim dingin. Tentu saja ia pergi ke tempat kerjanya di Myosotis (tempat perawatan para lansia).
Yang tidak kalah menyenangkan juga adalah menikmati putihnya salju. Sejauh mata memandang bisa dilihat pemandangan yang serba putih. Singkatnya: menyenangkan dan mengagumkan musim dingin tahun ini.
Tahun 2010 juga adalah tahun "ujian" untuk saya. Misalnya pada periode ini (Januari-Maret) saya telah mengikuti ujian untuk mata kuliah bhs. Ibrani II dan III. Hasilnya cukup memuaskan. Periode mendatang (April-Juni) masih ada empat mata kuliah: Orientasi Perjanjian Lama, Kitab-kitab Puisi dan Nabi-nabi, Dunia Perjanjian Lama dan bhs. Aram. Ujian tiga mata kuliah pertama akan serentak saya ikuti pada tanggal 1, 15, dan 29 April. Sedangan bhs. Aram akan menyusul.
Selain tahun "ujian" tahun ini juga adalah tahun-tahun intensnya persiapan kuliah master saya pada bulan september mendatang sekaligus riset untuk karya akhir (tesis). Jadi secara marathon tahun 2010 ini akan diisi oleh kegiatan "super" padat hingga tahun depan (2011). Saya katakan super padat karena memang begitulah kenyataannya. Tidak ada kultur santai, yang ada adalah kultur memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan belajar. Berjibaku dengan buku, itulah kultur belajar di Eropa. Walaupun dalam konteks tertentu banyak yang harus disesuaikan dengan kultur pemikiran Indonesia. Tetapi, untuk studi Perjanjian Lama yang sedang saya geluti, mau tidak mau harus kembali ke pemikiran-pemikiran kritis dengan sumber-sumber (literatur) seabrek-abrek! Syukurlah saya bisa menikmati kuliah ini. Sangat menyenangkan!
Tahun 2010, dimulai dengan menyenangkan, kiranya juga dapat diakhiri dengan menyenangkan!
Kampung pendeta=Kampen,
Februari 2010.
Salam
Fam. Hanock-Lubis (Rosita, Edward dan Gio Hanock)
Senin, 01 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar