Senin, 27 Juli 2009

MULAI DARI NOL

Hampir satu tahun kami sekeluarga berada di Kampen. Tujuan keberadaan kami di sini berkenaan dengan studi lanjut saya di Theologische Universiteit Gereformeerde kerken Vrijgemaak (TUK), Kampen.
Pertama sekali ketika kami tiba dan memulai aktivitas di Kampen, kami hidup seperti “orang buta menuntun orang buta” karena bahasa Belanda kami sangat minim ditambah lagi dengan lingkungan baru, budaya baru dan sama sekali berbeda. Kami selalu bertanya, bagaimana kalau mau ke swalayan untuk belanja, menelpon dokter kalau sakit, ke Gereja dan masih banyak lagi “ke....” yang lain. Apa yang harus kami katakan? Berkaitan dengan cuaca, apakah kami dapat beradaptasi sekaligus menikmatinya? Ya, itu semua sangat berat kami rasakan.
Sebagai pendatang tentu saja itu sangat logis. Sangat logis karena untuk dapat beradaptasi dengan semua itu kami harus banyak belajar. Pertama-tama adalah bahasa. Kemudian budaya Barat. Berikutnya lagi adalah semua aturan-aturan di Belanda baik birokrasi (sewaktu-waktu kami harus melapor diri ke departemen-departemen terkait berkaitan dengan keberadaan kami di Belanda) maupun aturan perlalulintasan (karena kemana-mana [tentu saja di seputar Kampen] kami menggunakan sepeda).
Akan tetapi rupanya kami tidak sendiri. Seperti tahun-tahun sebelumnya ketika dua kolega kami (pak Marianus dan pak Yusup sekeluarga) berstudi, di Kampen sudah menunggu saudara-saudara kami yang bertugas sebagai pembimbing selama kami berada di Belanda. Merekalah yang membimbing kami untuk mengetahui “ini dan itu boleh atau tidak boleh”. Bukan hanya itu saja mereka juga mengupayakan agar sedapat mungkin kami bisa “kerasan” di tanah seberang! Mereka melakukan semua itu dengan baik. Termasuk mengupayakan agar istri saya (Rosita) mendapatkan aktivitas harian agar tidak boring di rumah.
Sampai sekarang Rosita bekerja sebagai “tenaga sukarela” (vrijwilliger) di dua tempat berbeda: Myositis (setiap hari Senin dan Kamis) dan Vijverhof (setiap hari Selasa). Dua tempat ini adalah tempat perawatan untuk para lansia. Di sana ia membantu para “suster” untuk aktivitas sarapan pagi hingga aktivitas bermain. Ia sangat senang dengan aktivitas ini. Karena baginya ini juga toh adalah pelayanan kasih! Sedangkan anak kami Gio (nama panggilan), ia terdaftar sebagai murid di Gereformeerde Basisschool de Mirt. Pada tahun ajaran 2009/2010 nanti ia akan duduk di “groep” empat (di Indonesia kelas 2. Karena masalah bahasa, pada tahun ajaran 2008/2009 yang lalu kami pindahkan dia ke groep tiga, sekalipun ia sempat duduk satu-dua minggu di groep empat). Kami sangat bangga karena ia mendapatkan nilai (raport) yang sangat bagus, di luar dugaan kami. Bahasa Belandanya pun jauh lebih baik dari kami. Ya begitulah, anak-anak jauh lebih cepat belajar bahasa tinimbang orang dewasa.
Mengenai studi saya, sangat menarik! Perjanjian Lama yang adalah konsentrasi studi saya di TUK adalah studi yang berat, tetapi sekaligus menyenangkan. Ketika saya mengikuti kuliah di bawah bimbingan Prof. Dr. G. Kwakkel (prof. PL di TUK) dan Dr. Wolter H. Rose (dosen khusus bahasa semitik di TUK), saya harus ekstra kerja keras! Di kelas saya duduk di depan dengan tujuan saya bisa mendengar dengan baik dan mengikuti kuliah tersebut dengan penuh perhatian. Maklumlah, sebagaimana saya sebutkan di atas, bahasa Belanda saya sangat minim.
Selama saya mengikuti kuliah dua periode yang lalu, saya banyak mendapatkan perpektif-perspektif baru, bukan sekadar teori tetapi juga keseimbangan dalam hal praktik di lapangan. Mereka sangat kuat dalam hal mempelajari segala macam permasalahan-permasalahan teologi dari tahun-tahun sebelumnya sampai sekarang, tetapi juga mereka sangat kuat dalam iman: memercayai dan mengikut TUHAN! Dan yang lebih mengesankan adalah keakraban antara dosen dan mahasiswa sangat “kental” terlihat. Hal-hal di atas adalah bagian kecil dari karakteristik universitas teologi ini.
Jadi sangat jelas bahwa, kami mulai dari NOL di sini dan kami berharap akan mengakhirinya dengan sukses!

Kampung Pendeta (Kampen), 25 Juli 2009
Salam,

Fam. Hanock-Lubis.